05/12/08

Mau Beruntung?

KOK BISA BERUNTUNG TERUS????????


Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, Dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesannya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam Koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok is Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa?

Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! Ada 43 gambar di Koran ini”. Kelompok sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 Koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang Dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, Dan menangkan $250!” Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial :

1. Sikap terhadap peluang.

Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, Dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan? Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks Dan terbuka terhadap pengalaman-pengalam an baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, Dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru. Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!” Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, Dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi Dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.

Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika.Keputusan- keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “gut feeling”. Yang Barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit Kita dengar jika otak Kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan.

Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, Dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi Kita juga akan semakin tajam.

Banyak teman saya yang bertanya, “mendengarkan intuisi” itu bagaimana? Apakah tiba2 Ada suara yang terdengar menyuruh Kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan. Karena ini subyektif, mungkin saja Ada orang yang beneran denger suara.Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:

- Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Gue kok tiba2 deg-degan ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan Kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi.

- Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa hal lain.

- Isyarat dari luar. “Follow the omen” demikian kalau kata Paulo Coelho di buku the Alchemist. Baca “isyarat2″ dari luar yang datang pada Anda. Saya juga beberapa kali mengalami. Misalnya pernah saja tiba2 di TV saya kok merasa sering melihat iklan suatu perusahaan tertentu, kemudian ketemu teman kok membicarakan perusahaan itu lagi, di jalan melihat iklan perusahaan tadi. Belakangan perusahaan tadi ternyata menjadi klien saya. Jadi kalau akhir2 ini Anda sering berpapasan dengan Mercedez S Class dua pintu, barangkali itu suatu pertanda.

3. Selalu berharap kebaikan akan datang.

Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.

4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.

Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya.Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkansedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orangdari kelompok sial umunya adalah: “wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit”. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.

Sekolah Keberuntungan.
Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School .Saya yakin Anda semua sudah beruntung dan tidak perlu bersekolah di Luck School. Tapi ada baiknya mengintip sedikit, latihan2 apa yang diberikan di Luck School .
Salah satu yang menonjol dari orang sial adalah betapa mereka sering mengabaikan hal-hal yang positif di sekitar mereka. Misalnya salah satu pasien Prof Wiseman, adalah seorang wanita single parent, yang sangat sial. Ketika diminta menceritakan hidupnya akan segera nyerocos menceritakan setiap detil kesialannya. Betapa sulitnya memperoleh pasangan, sudah ketemu pria yang cocok tapi si pria jatuh dari motor, di lain kesempatan si pria jatuh dan patah hidungnya, sudah hampir menikah, gerejanya terbakar, dan sebagainya. Pokoknya benar2 sial. Padahal, dalam setiap interview, si wanita datang membawa 2 orang anak yang sangat lucu2 dan sehat. Sebagian besar dari kita akan merasa sangat beruntung memiliki 2 anak tadi. Tapi tidak bagi si wanita sial tadi. Karena 2 anak lucu tadi tidak ada dalam pikiran si wanita, yang otaknya sudah penuh dengan “kesialan”. Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan membuat “Luck Diary”, buku harian keberuntungan. Setiap hari, wanita tadi harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi. Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan.
Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, semakin mereka akan sadari betapa mereka beruntung. Dan sesuai prinsip “law of attraction”, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.

Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk Anda. Siap mulai menjadi si Untung?
Sumber : Buku Inspirasi

Pakelem? Apaan tuh !!!!

Seorang filsuf Sokrates bahwa ada empat macam orang yang mengajukan pertanyaan yaitu:
1. Ia yang tahu dirinya tidak tahu maka orang itu harus diberi tahu yang jelas.
2. Ia yang tahu dirinya tahu waspadalah karena pertanyaannya adalah ujian.
3. Ia yang tidak tahu bahwa dirinya tahu bangunkan dia agar pengetahuannya dikeluarkan.
4. Ia yang tidak tahu dirinya tidak tahu (Bahasa Bali: orang belog pengkung) hindarilah dia agar pembicaraan tidak ngalor ngidul tidak karuan jadinya.

Jadi kalau menghadapi orang pertama hendaknya ditanggapi sebaik mungkin. Karena agama menawarkan suatu hubungan transcendental yang bisa memberikan dasar emosional bagi rasa aman lebih kuat di tengah ketidakpastian. Apakah dasar emosional ini bisa dianggap masuk akal? Karena hanya hal itu yang saya berikan. Karena persoalan upacara pakelem yang hanya saya dapatkan di dalam Prasasti-prasasti dan rontal-rontal, diantaranya:

1. Prasasti Batur Sakti yang menyebutkan bahwa pada tahun Saka 833 telah ada perintah Raja Sri Ugrasena Warmadewa yang disampaikan oleh keturunannya agar tetap melaksanakan upacara pakelem di danau, laut dan kepundan gunung. Oleh karena danau dan laut sama-sama merupakan sumber air dan air merupakan wasana untuk memperoleh kemakmuran dan kesuburan yang diperlukan umat manusia dalam kehidupannya.

2. Lontar Siwa Tattwa Purana dan Kampaning Pura Ulun Danu, menyebutkan beberapa macam penderitaan yang akan dialami oleh manusia dan isi alam yang ada di bumi ini apabila upacara makelem dilaksanakan maka alam semesta beserta isinya akan aman, tentram dan makmur. Tetapi apabila sebaliknya maka alam akan mengalami kehancuran karena tidak ada keharmonisan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.

3. Dalam Lontar Bhama Ketih disebutkan maka pelaksanaan upacara Bhuta yajna pakelem bertujuan menghilangkan hama penyakit yang datang dari sumbernya yaitu laut atau danau serta memohon kemakmuran untuk kesuburan tanah pertanian yang upacaranya dilaksanakan di laut atau danau. Bila hal ini tidak dilaksanakan maka bencana akan terjadi.

4. Lontar Kala Tattwa menyebutkan pemberian upacara pada Bhuta Kala yakni apabila diberikan upacara akan dapat membantu kehidupan manusia.

5. Lontar Tutur Aji Kunang-Kunang bahwa dalam usaha untuk memperoleh keselamatan terhadap bhuwana agung pada upacara-upacara besar dan utama hendaknya raja atau pimpinan suatu daerah melengkapi upacara dengan upacara pakelem ke laut atau danau yang membatasi daerah atau wilayah yang diperintahkan.

6. Lontar Kala Purana dan Lontar Sanghara Bhumi, menyebutkan waktu atau saat yang baik untuk melaksanakan upacara Bhuta yajna seperti pakelem yang bertujuan mengharmoniskan hubungan antara bhuana agung dengan bhuana alit.

7. Lontar Puja Gebogan, membuat beberapa puja stawa untuk upacara pakelem di danau, laut dan gunung.

Bahan-bahan yang dipergunakan dalam upacara Bhuta yajna ini dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Mataya, sesuatu yang tumbuh dan berasal dari tumbuhan-tumbuhan yang dipakai sarana sesajen (banten) seperti buah-buahan, bunga, daun dan sebagainya.
b. Matinga, sesuatu yang lahir dua kali seperti ayam, itik karena lahir pertama sebagai telur dan lahir kedua sebagai ayam dan itik.
c. Maharja, sesuatu yang lahir sekali saja langsung menjadi binatang berkaki empat seperti kerbau, sapi, anjing, babi dan kambing yang semuanya belum diberikan (masih muda).

Pada waktu malasti yang dilakukan ke laut setelah sulinggih selesai menguncapkan mantra-mantra pasti ada acara mulang pakelem ke tengah laut. Tujuan dari malasti adalah memohon kepada Hyang Widhi dengan prabhawanya Hyang Waruna menganugrahkan air amerta (di Bali disebut tirta) guna dipakai dan terdapat di tengahing segara, di tengah lautan, maka pakelem itu ditenggalamkan ke laut. Pakelem adalah sarana yang bermakna menambah kesejahteraan. Ada lain lagi makna pakelem itu yaitu sebagai pangeruatan atau panyupatan dan bermakna sebagai pelebur dosa, guru piduka
Upacara pakelem adalah merupakan upacara yang digolong dalam upacara Bhuta yajna. Pakelem artinya menenggelamkan yadnya atau sesajen dengan menggunakan binatang kurban tertentu. Upacara pekelem dapat dilakukan di dua tempat yaitu di air dan di kepundan gunung.
Untuk pakelem di air dapat dilakukan di danau dan laut.
Pakelem itu sendiri berfungsi menanamkan nilai-nilai spiritual kepada umat manusia agar memiliki wawasan kesemestaan alam. Wawasan tersebut untuk menumbuhkan kesadaran dalam menjaga keharmonisan alam. Pakelem harus dilakukan dengan langkah nyata sebagai upaya menjaga keharmonisan alam semesta.
Pada umumnya upacara pakelem tentu banyak jenis hewan atau binatang yang dikurbankan dalam arti sebagai upacara Bhuta yajna hal ini memiliki beberapa makna yaitu:
1. Bermakna sebagai pengeruat (panyupatan).
Pelaksanaan upacara Bhuta yajna dalam bentuk pakelem mempergunakan kurban binatang atau hewan yang dirangkai sedemikian rupa yang kemudian dijadikan satu paket dalam bentuk upakara. Hal inilah yang sering menjadi pertanyaan di masyarakat sehubungan dengan membunuh (himsa karma). Sesungguhnya hal ini tidak demikian, seharusnya perbuatan ini kita pilih antara perbuatan yang himsa karma dengan subha karma. Dalam hal pelaksanaan upacara Bhuta yajna ini perbuatan bersifat subha karma karena membunuh dalam konteks bertujuan sebagai panyupatan (nyomya), memberikan jalan kalepasan binatang yang dipergunakan sebagai kurban suci dalam hal ini bertujuan akhir agar nantinya roh binatang reinkarnasi kembali ke dunia lahir menjadi manusia sesuai dengan permohonan sulinggih di atas (Lontar Tutur Sang Hyang Tapeni)
2. Bermakna sebagai kesejahteraan.
Karena upacara pakelem tersebut bagian dari upacara Bhuta yajna memiliki makna sebagai sarana untuk mensejahterakan semesta dalam hubungan dengan adanya kekuatan-kekuatan yang cenderung asuri sampad yaitu adanya kekuatan yang bersifat negatif yang perlu dinetralisir (somya) agar menjadi positif (bhutahita) untuk kesejahteraan bhuana agung dan bhuana alit.
3. Bermakna sebagai permohonan maaf "guru piduka".
Juga mengandung makna sebagai permohonan maaf atas perbuatan manusia dengan melaksanakan penyucian terhadap Panca maha bhuta melalui perbuatan kebajikan baik yang ada di bhuana agung maupun di bhuana alit.
4. Bermakna sebagai kurban suci.
Dapat dikatakan sebagai memiliki makna sebagai kurban suci yakni karena pada dasarnya pelaksanaan berdasarkan penghormatan baik berupa material maupun moral spiritual yang berlandaskan ketulus-ikhlasan. Dengan jiwa yang tulus dan perbuatan yang ikhlas bahwa umat Hindu menyadari bahwa Sang Hyang Widhi (Tuhan) menciptakan alam semesta ini beserta isinya termasuk manusia melalui yajnanya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kurban binatang dalam upacara Pakelem sering disebut dengan Bhuta yajna yang merupakan upacara yang tetap ajeg dilaksanakan umat Hindu di Bali. Upacara ini dilaksanakan di danau, laut dan kepundan gunung merupakan upacara ritual yang bertujuan untuk memohon amertha (air kehidupan) dari Ida Sang Hyang Widhi agar segala tumbuhan-tumbuhan dan makhluk hidup terus tumbuh subur, hidup berkembang dan makmur.
Demikianlah makna upacara pakelem. Tentang hasilnya, yang menentukan hanya Hyang Widhi Wasa. Manusia yang diberikan pikiran hanya upacara pakelem itulah yang dapat dilakukan dengan disertai permohonan kepada Tuhan semoga keselamatan, kesejahteraan dapat dilimpahkanNya.
Sumber : Majalah Sarad Bali Edisi 103