03/02/09

Tip hadapi Kaliyuga

MENJALANI HIDUP DI KALIYUGA
Kaliyuga adalah merupakan zaman terakhir menurut ajaran Agama Hindu. Bila ditinjau dari segi arti katanya, kaliyuga adalah merupakan kebalikan dari zaman Krta/Satya Yuga, dimana kalau pada zaman krta yuga hati manusia benar-benar tertuju kepada Tuhan sebagai pencipta, pemelihara dan pengembali alam beserta isinya, maka pada zaman kaliyuga kepuasan hatilah yang menjadi tujuan utama dari manusia. Pada zaman ini apabila manusia sudah dapat memenuhi segala sesuatu yang bersifat keduniawian baik itu berupa harta (kekayaan) ataupun tahta (kedudukan) maka puaslah orang tersebut. Sesungguhnya kewajiban utama manusia pada zaman Kaliyuga adalah: berdana punya sebagaimana dinyatakan dalam kitab Parasara Dharmasastra sebagai berikut:

Tapah Param Krtayuge Tretayam Jnananucyate
Dvapare Yajnamityacurddanam Ekam kalau yuge.

Artinya: Pelaksanaan penebusan dosa yang ketat (tapa) merupakan kewajiban pada masa Satyayuga; pengetahuan tentang sang diri (jnana) pada tretayuga; pelaksanaan upacara kurban keagamaan (yajna) pada masa Dwaparayuga, dan melaksanakan amal sedekah (danam) pada masa Kaliyuga (Parasara Dharmasastra 1,23).

Dari uraian di atas sangat jelas terlihat bahwa berdana adalah merupakan kewajiban manusia pada zaman kaliyuga. Namun dalam kehidupan sekarang ini kita melihat banyak orang kaya yang kikir dan tidak mau mendermakan kekayaannya walaupun untuk yajna sekalipun.

Apakah yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi? Ini disebabkan oleh karena mereka beranggapan bahwa makin sering bersedekah maka makin berkuranglah harta miliknya. Pandangan yang demikian adalah sangat keliru karena sesungguhnya makin banyak kita bersedekah maka makin banyak pula kenikmatan yang akan diperoleh sebagaimana dinyatakan dalam kitab Sarasamuscaya sebagai berikut:

Kuneng phalaning tyagadana yawat katemung bhogapabhoga ring palaloka dlaha, yapwan phalaning sewaka ring wwang kabayan, katemung medaguna, si yatnan kitatutur, kuneng phalaning ahingsa, si tan pamati-mati, kadirghayusan mangka ling sang pandita.

Artinya: Maka hasil pemberian sedekah yang berlimpah-limpah adalah diperolehnya berbagai kenikmatan di dunia lain kelak; akan pahala pengabdian kepada orang tua-tua adalah diperolehnya hikmah kebijaksanaan yaitu tetap waspada dan sadar, adapun akibat ahimsa yaitu tidak melakukan perbuatan membunuh adalah usia panjang; demikian kata sang pandita (orang arif bijaksana). (S.S. Sloka 171).

Oleh sebab itulah mengingat berdana punya merupakan kewajiban utama pada zaman kaliyuga ini marilah kita mencoba membuka hati kita untuk melaksanakan dana punya. Kitab Sarasamuscaya memberikan tuntutan agar dapat melatih diri untuk berdana punya sebagai berikut:

Kuneng tekapanika sang mataki-taki dana karma, alpa wastu sakareng danakena, kadyangganingprat, lunggat, lutik, bungkila, samsam prakara, telas parityaga pwa irika, licin anglugas alaris ri kawehanya, makanimittang abhyasa,dadya ika mehakena rah dagingnya mene,

Artinya: Bagi orang yang melatih atau menguji diri untuk perbuatan memberikan sedekah, hendaknya dengan cara memberikan sedekah barang-barang yang tak berarti untuk sementara, sebagai misalnya salur-saluran, pucuk tumbuh-tumbuhan, tunas tanam-tanaman, umbi-umbian dan semacamnya tanam-tanaman yang daunnya boleh dimakan; jika untuk itu telah ada keikhlasan pengorbanan, licin, bebas dan lancar jalannya pemberian sedekah itu disebabkan karena telah merupakan kebiasaan dapat terjadi bahwa orang itu akan memberikan darah dagingnya sendiri nanti. (S.S. Sloka 212).

Setelah kita menyadari bahwa betapa besarnya pahala berdana punya tersebut bagi kehidupan kita, alangkah mulianya bila kita dapat menjadi tauladan dalam hal bersedekah, janganlah hanya dapat memberikan nasehat orang untuk dapat bersedekah, namun dirinya tidak pernah melaksanakan. Jika hal ini dilakukan, betapa nistanya kata-kata yang diucapkannya, karena sesungguhnya apa yang disampaikan akan sia-sia dan tiada akan membuahkan hasil sebagaimana diungkapkan dalam Sarasamusccaya sebagai berikut:

Kunang ikang wwang mapitutur juga, makon agawaya danapunya, akweh akadika tuwi, ikang wwang mangkana kramanya, ya ika tan siddhasadhya dlaha, wiluma asingsesta prayojananya, kadi kramaning kliba, tan paphala polahnya.

Artinya: Tetapi orang yang hanya memberi ingat atau nasehat saja menyuruh agar berbuat kebajikan memberi sedekah, baik banyak ataupun sedikit, orang yang demikian prilakunya, adalah tidak kesampaian maksudnya kelak, sekalian cita-cita dan tujuannya akan sia-sia, sebagai keadaan seorang mati pucuk (mandul) tidak berhasil perbuatannya (S.S. Sloka 214), Perbuatan itu sama hasilnya dengan memberikan punya dengan hati marah akan tidak menuai hasil sama sekali seperti diungkapkan dalam lontar Slokantara sebagai berikut:

Walaupun seandainya dana itu berjumlah amat besar. Tetapi diberikan dengan hati marah Akhirnya tidak berbeda dengan abu. Dan setumpuk ilalang dibakar oleh api yang kecil saja. (Sloka 20 (5)).

Oleh karena itu, marilah kita berusaha melatih diri untuk mampu berdana punya sesuai dengan kemampuan kita, walau sekecil apapun karena yang terpenting dalam bersedekah adalah ketulusan hati dan bukan dengan kesombongan, gen gsi ataupun dengan maksud memamerkan kekayaan. Di dalam kitab Sarasamusccaya diungkapkan secara jelas mengenai hal tersebut sebagai berikut:

Yadyapin akedika ikang dana, ndan mangene welkang ya, agong phalanika, yadyapin akweha tuwi; mangke welkang tuwi, yan antukning anyaya, nisphala ika, kalinganya, tan si kweh, tan si kedik, amuhara kweh kedik ning danaphala, kaneng paramarthanya, nyayanyaya ning dana juga.

Artinya: Biarpun sedikit pemberian (sedekah) itu, tetapi mengenai kehausan atau keinginan hati, besarlah manfaatnya; meski banyak apalagi menyebabkan semakin haus dan diperoleh dengan cara yang tidak layak atau tidak patut, tiada faedahnya itu; tegasnya, bukan yang banyak atau bukan yang sedikit, menyebabkan banyak atau sedikit faedah pemberian itu, melainkan pada hakekatnya tergantung dari layak atau tidaknya pemberian itu (S.S. Sloka 184).

Hal senada diungkapkan pula dalam Lontar Slokantara, sebagai berikut:

Walaupun dana itu berjumlah kecil dan tidak berarti,Tetapi jika diberikan dengan hati suci, akan membawa kebaikan yang tidak terkiraSebagai halnya sebuah biji pohon beringin. (Sloka 194).
Dari beberapa kutipan sloka di atas, dapatlah diambil intisarinya bahwa kewajiban utama manusia pada zaman Kaliyuga adalah melaksanakan dana punya, dimana sedekah tersebut semestinya dilakukan dengan hati yang suci dan ikhlas bukan dengan jalan memamerkan diri terlebih-lebih dengan harapan untuk mendapatkan pujian, sia-sialah semuanya itu.

Demikianlah kewajiban utama manusia di zaman kaliyuga yakni : “Melaksanakan Dana Punya/Sedekah”.
Oleh : Drs. Made Budiarsa - WHD No. 441 Nopember 2003

22/01/09

Kupuja ..Leluhurku

Memuja Leluhur



Artikel berikut ini saya ambil dari Majalah Raditya yang ditulis oleh Bapak Putu Setia, karena menurut saya sangat bagus untuk dijadikan sumber pencerahan dalam melakukan pemujaan baik kepada leluhur, dewa, maupun Ida Hyang Widhi Wasa sehingga menambah keyakinan kita pada iman kita sendiri. Berikut lengkap artikelnya.
Bagaimanakah para leluhur kita di masa lalu mengajarkan masalah moral, budi pekerti, keyakinan agama, dan ritual-ritual yang ada? Apakah mereka memberikan dharma wacana sambil mengutip buku-buku suci? Mungkin tidak, teknik penyampaiannya pasti sederhana dengan cara bercerita. Sekarang, guru atau tokoh agama mengutip kitab-kitab suci da­lam melakukan dharma wacana. Maklum, pendengarnya juga kri­tis, semua hal yang bersifat anjuran, pantangan, dan seba­gainya, selalu dimintai rujukannya di kitab suci. Begitu pula pen­dharma wacana, sebentar-sebentar mengutip sloka suci su­paya kelihatan lebih keren.
Orang-orang di desa begitu polos menjalankan ritual agama dan juga memaknai kehidupan beragama. Kalau ada piodalan di pu­ra, mereka datang tanpa rumit memikirkan apakah yang akan mere­ka puja di pura itu leluhur atau dewa atau Hyang Widhi. Isti­lah bethara, dewa, dan Tuhan masih rancu di kalangan orang-orang yang polos itu. Banyak sekali umat Hindu di pedesaan tak tahu dan tak perlu tahu apa beda bethara, dewa dan Tuhan. Ka­lau piodalan di pura ada orang yang kerauhan (trance) dan orang yang kerauhan itu menyebutkan kelinggihan Ida Bethara ter­tentu, umat sulit menjelaskan siapa Ida Bethara tertentu itu. Ka­lau ada yang bertanya apakah Ida Bethara itu Tuhan, mereka dengan mudah saja menjawab: ya. Bahkan orang kerauhan Butha pun juga disebut Tuhan. Jadi, begitu banyak Tuhan.
Ini yang sering sekali membuat orang non-Hindu bingung, ka­lau jawabannya seperti itu kenapa agama Hindu masih tegas me­nyatakan Tuhan itu Esa? Kenapa Hindu masih menyebut aga­ma monotheisme? Tak heran kalau beberapa buku sejarah dan sosial menyebutkan Tuhan umat Hindu itu ada banyak.
Di banyak desa di Bali, pemujaan kepada leluhur menda­pat­kan tempat yang utama. Barangkali warga di sini tak perlu rumit dan ruwet mendefinisikan soal leluhur itu. Bagi mereka memuja le­luhur sudah cukup untuk membuktikan bahwa mereka men­jalankan ritual agama, tentu saja agama Hindu. Dengan hanya me­mu­ja leluhur, mereka tetap yakin sebagai bagian yang sah dari orang Bali, dan juga tidak ragu untuk menyebutkan agama mere­ka, yakni Hindu.
Salahkah mereka yang hanya memuja leluhur? Perlukah kita men­cibir mereka sebagai “terbelakang” atau “kurang paham ajar­an agama” atau sebutan lainnya, yang mengesankan seolah-olah kita lebih tahu masalah agama dibandingkan mereka? Jangan cepat-cepat melontarkan tuduhan seperti itu. Tradisi yang mereka peli­hara dan mereka pertahankan itu pastilah dulunya ditanamkan dengan penuh keyakinan oleh leluhur mereka yang paham soal aga­ma. Kitab suci Bhagawadgita, pada sloka VII-21 mengatakan, “apa­pun bentuk kepercayaan yang ingin dipeluk oleh penganut aga­ma, Aku perlakukan kepercayaan mereka sama supaya tetap te­guh dan sejahtra”. Sloka ini adalah kelanjutan dari penjelasan bagai­mana jika umat menyelengarakan ritual untuk memuja dewa­ta. Di sini jelas disebutkan bahwa perbedaan dalam melakukan pe­mujaan itu hasilnya sama saja menuju Aku (Tuhan Yang Esa). Pada sloka IX-25 disebutkan. “Yang memuja dewata pergi ke­pada dewata, kepada leluhur perginya yang memuja leluhur me­reka, dan kepada roh alam perginya yang memuja roh alam, te­tapi mereka yang memuja-Ku, datang kepada-Ku.”

Ketiga bentuk pemujaan ini, baik kepada dewa-dewa, leluhur, mau­pun roh suci yang ada di alam, semuanya mendapatkan paha­la. Semuanya bisa dibenarkan, namun Krisna mengajarkan jika umat memuja Tuhan secara langsung, itulah yang terbaik. “Yang terbaik” tidak harus diartikan itulah jalan satu-satunya. Apalagi diartikan itu jalan yang paling benar, sementara yang lainnya salah. Dalam kepercayaan Hindu, seseorang yang te­lah meninggal dunia, rohnya (atman) menyatu dengan Tuhan. Bu­kan seperti kepercayaan agama lain, “berada di sisi Tuhan”. Ka­rena roh atau atman menyatu dengan Tuhan, mereka yang me­muja leluhur otomatis memuja Tuhan juga. Ibarat pepatah, sam­bil berenang minum air, sambil memuja leluhur, kita memuja Tuhan.
Dengan pemahaman seperti ini, tradisi pemujaan kepada leluhur bukanlah sesuatu yang salah. Yang penting adalah kita ta­hu di mana posisi kita berada dalam melakukan pemujaan, apa­kah itu kepada leluhur (bethara), dewa, atau Tuhan. Leluhur me­nyatu dengan Tuhan, dewa adalah sinar sucinya Tuhan, jadi se­sungguhnya obyek yang dipuja sama saja.
Masalahnya adalah apakah “memuja leluhur” lewat pe­rantaraan balian, dasaran, tapakan, atau apapun namanya, ju­ga termasuk dalam jalur “pemujaan kepada Tuhan?” Ini yang per­lu diwaspadai. Dengan segala hormat saya kepada mereka yang mempercayai balian, dasaran, tapakan dan sebagainya ini, saya berpendapat ini sudah di luar konteks. Bahkan di luar dari makna sloka Bhagawad Gita yang saya kutip di atas. Kita tidak tahu, sejauh mana tingkat kerohanian dan tingkat spiri­tual mereka yang disebut balian, dasaran, tapakan itu. Kita sulit membuktikan apakah omongan mereka, meski pun sete­lah dinyatakan kerauhan, bisa dipegang untuk dijadikan pe­doman. Misalnya, ada tradisi, ketika baru punya anak, menanya­kan langsung ke balian (ada menyebutnya nunasang ke baas pipis) siapa yang numadi (reinkarnasi). Balian pasti men­yebutkan tak jauh-jauh, mungkin kakeknya, eyangnya, ne­neknya, atau siapa pun yang sudah meninggal dunia. Dengan mem­percayai hal ini, keluarga itu akan mematut-matutkan anak yang baru lahir itu dengan sifat orang yang numadi. Ini ber­bahaya karena karakter anak akan terpengaruh oleh apa yang su­dah diyakini oleh keluarga itu. Jadi, mari kita rasional termasuk jangan terlalu percaya kalau leluhur sering memberi kutukan atau leluhur suka minta macam-macam.
Demikian isi artikelnya, sekarang untuk menarik makna dan pemahamannya sangat diserahkan kepada keyakinan dari masing-masing individunya.